![]() |
| Foto:Deviantart |
Setiap
hari anak perempuan kecil itu duduk di kursi kayu di samping rumahnya. Dia
memegang boneka kain. Boneka kainnya sudah lusuh, kumal ; serupa baju yang
dikenakannya. Sebenarnya dia cantik, kulitnya putih, tapi karena tak terurus
dia seperti anak-anak jalanan.
Ketika
kali pertama melihatnya, aku sudah tertarik mengetahui lebih jauh dirinya.Dari
para tetangganya, kuketahui anak perempuan itu yatim piatu. Ayahnya lama telah
meninggal, ibunya baru setahun kemarin. Sejak itu, ia hanya sendiri di rumah
itu. Tak pernah ada kerabat dari pihak ayah atau ibunya yang datang menjemput. Untuk
makannya, para tetangganya bergantian membawakan makanan, terkadang ada ibu
yang kasihan memandikannya dan mengggantikan pakaiannya, pakaian kotornya
mereka bawa pulang untuk dicucikan.
Rumahku
beda RT dengan anak itu. Tapi, setiap berangkat-pulang kerja, aku selalu lewat
depan rumahnya. Mau tak mau aku setiap hari melihatnya. Makin sering
melihatnya, rasa kasihan membersit di hatiku. Kebetulan selama ini aku hanya sendiri di rumah. Istriku telah
lama meninggal. Kami tak dikarunia anak. Kuingin, bila tak ada halangan, mengangkatnya
sebagai anak dan tinggal di rumahku.
Hari
itu, saat hendak berangkat kerja, kulihat anak itu telah duduk di tempat biasa.
Ia tengah asyik bermain dengan bonekanya. Aku sempatkan untuk mampir mendekat
ke arahnya.
“
sedang main apa?”
Dia
tak melihatku, tapi menjawab. “ Bermain rumah-rumahan dengan Mita.”
“
Mita? Siapa Mita?”
“ Boneka saya.”
“Oo..”
Aku
kagum mendengar jawabannya. Dari caranya bicara, tampaknya dia pintar.
Bahasanya pun santun.
“
Kamu setiap hari duduk di sini?”
Dia
mengangguk.
“
Saya sedang menunggu.”
“
Menunggu?”
“
Iya, menunggu mama. Mama janji akan menjemput saya.”
Ada
yang menyesak di dada. Jadi, selama ini dia duduk di tempat ini untuk menunggu
dijemput mamanya. Padahal mamanya telah pergi ke surga. Dia tak mungkin datang
menjemput anaknya. Anak itu memegang harapan kosong.
Di
kantor, aku terus memikirkan anak itu. Kian kuat keinginanku untuk
mengangkatnya sebagai anak. Usiaku kini hampir seperempat abad. Seperti dia,
aku pun tinggal sendiri.Aku bertekad mendatangi pengurus lingkungan di tempat
anak itu dan menyampaikan niat baikku. Semoga tidak ada aral atas niatku.
Tapi,
hari itu aku tak pulang. Bos menyuruhku
berangkat ke Surabaya siang itu juga untuk urusan kantor. Tiket pesawat
telah dipesan untukku. Dua hari aku di Surabaya. Hari ketiga aku kembali ke
Jakarta, tapi tak langsung ke kantor, karena bosku memberi libur sehari. Kuputuskan
pulang saja.
Sebelum
sampai rumah, aku lewat depan rumah anak perempuan kecil itu. Tapi, ia tak ada.
Seorang anak muda, bertelanjang dada, tengah sibuk membongkar kursi kayu yang
biasa diduduki anak perempuan itu. Sengaja aku berhenti.
“
Kok dibongkar?”
Anak
muda itu berhenti bekerja, melihat ke arahku.
“
Sudah lama kursi kayu ini mau saya bongkar. Tapi, karena sering dipakai duduk
anak perempuan kecil itu, tak pernah jadi. Sekarang, setelah dia tidak ada,
baru saya laksanakan membongkarnya.”
Tak
ada? Saya terkejut mendengar ucapan anak muda itu.
“
Memang anak perempuan kecil itu ke mana? Apa dijemput kerabatnya?”
“
Dua hari lalu warga sini temukan dia tertidur di kursi kayu ini. Kami kira dia
hanya tidur. Ternyata dia telah meninggal.”
Tubuhku
mendadak menggigil. Tiba-tiba aku ingat ucapannya. Dia sering duduk di kursi
panjang itu menunggu dijemput mamanya. Rupanya dia kini betul-betul dijemput.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar