Kamis, 12 Desember 2013

Perempuan Kecil dan Boneka


Foto:Deviantart

Setiap hari anak perempuan kecil itu duduk di kursi kayu di samping rumahnya. Dia memegang boneka kain. Boneka kainnya sudah lusuh, kumal ; serupa baju yang dikenakannya. Sebenarnya dia cantik, kulitnya putih, tapi karena tak terurus dia seperti anak-anak jalanan. 

Ketika kali pertama melihatnya, aku sudah tertarik mengetahui lebih jauh dirinya.Dari para tetangganya, kuketahui anak perempuan itu yatim piatu. Ayahnya lama telah meninggal, ibunya baru setahun kemarin. Sejak itu, ia hanya sendiri di rumah itu. Tak pernah ada kerabat dari pihak ayah atau ibunya yang datang menjemput. Untuk makannya, para tetangganya bergantian membawakan makanan, terkadang ada ibu yang kasihan memandikannya dan mengggantikan pakaiannya, pakaian kotornya mereka bawa pulang untuk dicucikan.

Rumahku beda RT dengan anak itu. Tapi, setiap berangkat-pulang kerja, aku selalu lewat depan rumahnya. Mau tak mau aku setiap hari melihatnya. Makin sering melihatnya, rasa kasihan membersit di hatiku. Kebetulan selama  ini aku hanya sendiri di rumah. Istriku telah lama meninggal. Kami tak dikarunia anak. Kuingin, bila tak ada halangan, mengangkatnya sebagai anak dan tinggal di rumahku.

Hari itu, saat hendak berangkat kerja, kulihat anak itu telah duduk di tempat biasa. Ia tengah asyik bermain dengan bonekanya. Aku sempatkan untuk mampir mendekat ke arahnya.

“ sedang main apa?”

Dia tak melihatku, tapi menjawab. “ Bermain rumah-rumahan dengan Mita.”

“ Mita? Siapa Mita?”

“ Boneka saya.”

“Oo..”

Aku kagum mendengar jawabannya. Dari caranya bicara, tampaknya dia pintar. Bahasanya pun santun.

“ Kamu setiap hari duduk di sini?”

Dia mengangguk.

“ Saya sedang menunggu.”

“ Menunggu?

“ Iya, menunggu mama. Mama janji akan menjemput saya.”

Ada yang menyesak di dada. Jadi, selama ini dia duduk di tempat ini untuk menunggu dijemput mamanya. Padahal mamanya telah pergi ke surga. Dia tak mungkin datang menjemput anaknya. Anak itu memegang harapan kosong. 

Di kantor, aku terus memikirkan anak itu. Kian kuat keinginanku untuk mengangkatnya sebagai anak. Usiaku kini hampir seperempat abad. Seperti dia, aku pun tinggal sendiri.Aku bertekad mendatangi pengurus lingkungan di tempat anak itu dan menyampaikan niat baikku. Semoga tidak ada aral atas niatku.
Tapi, hari itu aku tak pulang. Bos menyuruhku  berangkat ke Surabaya siang itu juga untuk urusan kantor. Tiket pesawat telah dipesan untukku. Dua hari aku di Surabaya. Hari ketiga aku kembali ke Jakarta, tapi tak langsung ke kantor, karena bosku memberi libur sehari. Kuputuskan pulang saja.

Sebelum sampai rumah, aku lewat depan rumah anak perempuan kecil itu. Tapi, ia tak ada. Seorang anak muda, bertelanjang dada, tengah sibuk membongkar kursi kayu yang biasa diduduki anak perempuan itu. Sengaja aku berhenti.

“ Kok dibongkar?”

Anak muda itu berhenti bekerja, melihat ke arahku.

“ Sudah lama kursi kayu ini mau saya bongkar. Tapi, karena sering dipakai duduk anak perempuan kecil itu, tak pernah jadi. Sekarang, setelah dia tidak ada, baru saya laksanakan membongkarnya.”

Tak ada? Saya terkejut mendengar ucapan anak muda itu. 

“ Memang anak perempuan kecil itu ke mana? Apa dijemput kerabatnya?”

“ Dua hari lalu warga sini temukan dia tertidur di kursi kayu ini. Kami kira dia hanya tidur. Ternyata dia telah meninggal.”

Tubuhku mendadak menggigil. Tiba-tiba aku ingat ucapannya. Dia sering duduk di kursi panjang itu menunggu dijemput mamanya. Rupanya dia kini betul-betul dijemput.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar