Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2013

Nenek



Sore itu, aku baru keluar dari super market sehabis belanja bulanan ketika kulihat peristiwa yang membuatku kaget. 
Foto : Deviantart
Seorang nenek tengah ditimpuki batu oleh sekelompok anak tanggung. Nenek itu terduduk di tanah, menutup mukanya dengan tangan. Batu besar-kecil terus melayang ke arahnya. Melihat itu, aku buru-buru berlari mendekat sambil berteriak-teriak ke anak–anak itu agar menghentikan aksi mereka. Mereka berhenti ketika aku sampai.

Seorang anak berteriak ke arahku.

“Jangan ditolong,tante. Dia itu nenek jahat!”

“ Kalian yang jahat!”balasku. “ Sampai hati kalian melempar nenek ini dengan batu! Apa kalian tidak diajari sopan santun !”

Anak-anak itu terdiam mendengar bentakanku. Secara bersamaan mereka menjauh. Kulihat di beberapa bagian tubuh nenek itu terdapat luka memar. Kepalanya berdarah. Kubantu dia berdiri.

“Terima kasih, Non,”katanya kepadaku.

Aku mengangguk.

“ Nenek mau ke mana?”

“ Nenek tidak tahu mauke mana.”

“ Nenek punya keluarga di Jakarta ini?”

Dia menggeleng.

“ Nenek dari kampung.Ke Jakarta ini mau nyari cucu nenek. Tapi, nenek bingung, tidak tahu ke mana mencarinya.”

“ Kalau begitu, nenek ikut ke rumah saya ya, akan saya bersihkan luka-luka nenek,” kataku. Dia mengangguk.

Tiba di kontrakanku,segera kubersihkan luka di tubuh nenek itu. Kepalanya kuberi obat luka, lalu kuberi perban. Memar di tangannya kubaluri minyak tawon. Dari tatapan matanya,kutahu ia ngin menyampaikan rasa terima kasih. Setelah beres membantu nenek itu, baru kukeluarkan belanjaanku untuk ditaruh di kulkas. Nenek itu memperhatikanku.

“ Mau masak ya,Non?”

“ Iya, nek,” jawabku. “Tapi, saya mau mandi dulu.”

“Kalau begitu non mandi saja. Biar nenek yang masak.” Katanya.

“Nenek bisa masak?”

“Bisa. Biar nenek masakkan sup ayam. Non boleh cobain masakan nenek.”

Meski ragu, aku serahkan potongan ayam,berikut bahan-bahan sup kepadanya. Belanjaan lainnya kumasukkan ke dalam kulkas.

“Maaf,Non, di mana pisaunya?”

“Di laci, Nek. Buka saja.”

Nenekmembuka laci lemari makan, lalu mengeluarkan pisau. Kulihat ia sejenak terdiam memperhatikan pisauku. Aku yakin ia kagum dengan pisau dapurku. Pisau itu amat tajam,berujung runcing, terbuat dari bahan anti karat.

Sementara nenek masak sup, kuputuskan untuk mandi. Cukup lama aku di kamar mandi. Begitu selesai, kulihat nenek telah menyiapkan perlengkapan makan di meja. Aroma sup ayam membuatku lapar.Melihatku telah selesai mandi, nenek tersenyum. Kubalas senyumnya. Aku buru-buru masuk kamar, berganti baju, lalu keluar lagi. Berdua kami lalu makan. Sungguh luar biasa sup ayam masakan nenek.Dalam hati aku bersyukur telah menolongnya dan membawanya ke kontrakanku.Dalam hati, aku malah berharap nenek itu mau tinggal bersamaku.

Aku memang tinggal sendiri di Jakarta. Keluargaku tinggal di Solo. Sebulan sekali ibuku datang ke kontrakanku dan menginap selama dua hari.Setelah itu ia balik ke Solo. Ayahku telah lama meninggal. Meski tinggal sendiri, ibuku tak mau kuajak tinggal di Jakarta bersamaku. Ia merasa lebih cocok tinggal di Solo. Di Jakarta, aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan kontraktor. Aku anak tunggal.

Selesai makan, kuajak nenek itu ke kamar. Kuajak dia tidur seranjang denganku. Tapi, ia menolak, lebih memilih tidur di lantai. Tak tega, kuturunkan kasur lipat dari atas lemari pakaian, lalu menggelarnya untuk alas tidur nenek. Kuberi pula ia bantal.

Tak berapa lama, nenek itu telah tertidur. Agaknya, ia dalam keadaan letih.Posisi tidurnya meringkuk seolah menahan rasa dingin. Kuambil selimutku, lalu menyelimuti tubuhnya. Tak lama, aku pun terlelap tidur.

Entah berapa lama aku tertidur, ketika mendadak aku terbangun dengan rasa nyeri di dada. Dengan mata masih mengantuk, kulihat sang nenek telah berdiri di samping ranjangku. Matanya mendelik dan mulutnya menyeringai. Tangannya memegang pisau yang berlumur darah. Itu pisau milikku. Rasa takut langsung menghinggapiku. Tapi, belum lagi aku berbuat sesuatu, ia telah menghujamkan pisau ke dadaku. 

Tepat menembus jantungku!

Lorong Buntu



Seorang pria tambun— berperut buncit hingga napasnya terdengar agak sesak—melintas menyeberang jalan saat lampu merah. Langkahnya diikuti sejumlah pasang mata dari pengendara yang berhenti menunggu lampu merah berubah hijau. Beberapa di antaranya malah bisik-bisik dan menunjuk-nunjuk dirinya. Mungkin mereka tengah mengolok-olok tubuh tambunnya. 

Foto : Dok.Deviantart
Tapi, pria tambun itu tak peduli, dengan cepat ia menyeberang jalan. Kini, ia telah sampai di trotoar jalan depan deretan pertokoan. Saat berjalan kedua tangannya masuk ke saku jaketnya.

Pertokoan itu pada malam hari tutup. Aktivitasnya digantikan sejumlah wanita penghibur yang mondar-mandir di lorong pertokoan mencari pria hidung belang yang mau berkencan. Macam-macam gaya mereka, sebagian berdiri berkumpul, sebagian mondar-mandir meneriaki pengandara yang lewat. Tapi, saat si tambun melewatinya, mereka hanya memandanginya. Tak ada yang mencoba merayunya, malah mereka saling berbisik.Salah seorang bahkan sempat memperoloknya : “Gila, kalau main sama dia mah gue minta di atas aja. Kalau di bawah, bisa gepeng gue,” katanya, diiringi tawa riuh kawan-kawannya.

Pria tambun itu bukan tak mendengarnya. Tapi, ia memilih mengacuhkannya. Bukan sekali ini ia mendengar olok-olok seperti itu. Tapi, mereka biasanya hanya berani di belakang punggungnya. Jadi ia hanya bisa diam saja. Sambil berjalan, agak diturunkannya topi hitamnya hingga lebih menutupi sebagian wajahnya.

Dua blok dari sana, pria tambun itu agak memperlambat langkahnya. Dilihatnya seorang wanita penghibutr tengah berdiri sendirian. Bertubuh tinggi, berambut panjang, dan kulitnya terlihat putih. Rupanya, tipe seperti inilah yang dicarinya.

Semula wanita itu tak menyadari kehadiran orang lain di dekatnya. Ia asyik menikmati rokoknya. Kepulan asap rokoknya melayang-melayang di udara, sebelum akhirnya hilang dibawa angin. Tapi, lama-lama ia sadar juga ada. Ia menoleh dan melihat sosok pria tambun yang tengah memandanginya. Ditebarnya senyuman rayuan.

“ Hallo, om! Butuh kehangatan? Asal harganya cocok, pasti om bisa dapatkan dari saya,” katanya dengan suara dibuat semanja mungkin. 

Sejenak pria tambun itu ragu-ragu. Tapi, kemudian ia mendekat ke arah perempuan itu. Kini tubuh keduanya saling merapat. Saat berdekatan, sang perempuan mendengar suara napas tersenggal-senggal pria tambun itu.

“ Berapa tarifmu?” Si tambun bertanya setelah sejenak berdiam diri. Suaranya terdengar berat. 

“ Om maunya short time atau long time? Kalau short time, gope aja, om. Tapi, kalau mau long time, tinggal kalikan dua aja. Tapi, jangan kawatir, nanti saya kasih korting deh, om,” perempuan itu mulai mengeluarkan jurus rayuan kepada lelaki tambun itu.

“ Baik,” suara pria tambun itu terdengar lagi. “Saya akan bayar kamu dobel. Tapi, kita cari tempat dulu karena saya ingin bicara serius denganmu.”

“ Kalau menyangkut uang, ke manapun om ngajak, saya pasti nurut,” kata perempuan itu dengan wajah cerah.

Berdua mereka berjalan menyusuri lorong trotoar itu. Tak ada yang memperhatikan keduanya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sudah biasa di tempat itu orang-orang datang dan pergi. 

Tak lama kemudian keduanya terlihat berbelok ke sebuah lorong. Ternyata itu lorong buntu. Lorong itu cukup terang, tapi di kiri kanannya dipenuhi gunungan sampah. Gunungan sampah itulah yang bisa menghalangi penglihatan orang lain ke dalam lorong buntu itu. Bau sampah terasa menyengat di hidung. Air menggenangi lantai lorong itu. Beberapa ekor tikus berlarian menghindar begitu menyadari kehadiran mereka.

Keadaan itu yang membuat perempuan itu sedikit gusar.

“ Om nggak ngajak saya main di tempat seperti ini, kan? Sebaiknya kita cari kamar hotel aja. Yang murah juga nggak apa-apa, om,” suaranya agak merajuk.

“ Kita berdua ke mari memang bukan untuk itu,” jawab pria tambun itu.

Usai berkata begitu--dengan tangan terbungkus sarung hitam—dibekapnya  mulut perempuan penghibur itu, lalu didorongnya hingga merapat ke tembok. Dia lalu mencabut pisau dari balik jaket kulitnya, ditempelkannya ke leher putih perempuan itu. Pisau itu berkilat ditimpa cahaya lampu.

“Sedikit saja kau bergerak,”ancamnya, “ pisau ini akan merobek-robek lehermu.”

Perempuan penghibur terlihat mengikuti perintahnya. Dia hanya berdiam tak bergerak, menunggu apa yang selanjutnya dilakukan pria tambun itu. Hanya matanya yang terus melihat gerak-gerik pria tambun itu. Pria tambun itu sedikit lega, karena sama sekali tak ada perlawanan dari calon mangsanya.

Dalam kondisi begitu, mendadak berkelebat wajah istrinya. Perempuan yang selama ini mengolok-olok tubuh tambunnya, yang menghina ketidakmampuannya menghasilkan keturunan, dan yang sering memasukkan pria lain ke dalam kamar mereka saat ia tidak ada di rumah. Rasa marah dan dendam di hatinya muncul. Dan perempuan penghibur itu akan jadi pelampiasan dendamnya. Dia bukanlah korban pertama. Sudah Sembilan perempuan penghibur dibunuhnya dengan cara dirobek-robek lehernya. Setiap kali membunuh, ia bayangkan leher istrinyalah yang dirobeknya. 

Selama ini, ia terpuaskan bila melihat wajah ketakutan para korbannya. Tubuh mereka yang gemetar, mata memelas dan ucapan-ucapan memohon agar tidak dibunuh. Tapi, pada korbannya kali ini, pria tambun itu melihat hal aneh. Tak ada rasa takut di matanya. Tubuhnya pun tak gemetar.

Di saat bersamaan, bulan bulat muncul penuh dari balik awan. Bulan purnama! Cahayanya masuk ke lorong dan menerangi tubuh keduanya. Keanehan terjadi. Tubuh perempuan itu perlahan-lahan berubah bentuk. Keluar bulu-bulu lebat di tangannya. Begitu pula di wajahnya. Kedua alisnya menebal, rambutnya yang sebelumnya lurus panjang, tiba-tiba saja menjadi acak-acakan, mengingatkan akan wajah seekor srigala. 

Keadaannya kini berbalik. Perasaan takut menghantui pria tambun itu. Dia ingin cepat-cepat lari dari tempat itu. Tapi, saat bekapannya ia lepaskan, matanya terbelalak melihat keanehan lain lagi. Mulut perempuan itu menyerangai, terlihat deretan gigi besar-besar dengan empat taring yang juga besar. Dan belum sempat pria tambun bergerak, tubuhnya telah diterkam, lehernya dicabik-cabik. Darah muncrat ke mana-mana.

Sejam kemudian, dari lorong buntu itu muncul sesosok tubuh perempuan. Bertubuh tinggi dan berkulit putih. Sejenak ia berhenti, merapihkan rambut yang sempat terlihat acak-acakan. Setelah itu, dari tasnya, ia keluarkan bungkusan rokok dan dinyalakannya sebatang. Dengan santai ia kemudian berjalan menuju ke tempat ia biasa berdiri sendiri menunggu mangsanya. Di lorong depan deretan pertokoan.

Keesokan paginya orang-orang yang lewat di sekitar tempat itu dibuat gempar dengan penemuan mayat pria bertubuh tambun di lorong buntu dekat tumpukan sampah. Awalnya seorang pemulung yang menemukan mayat itu. Kabar cepat tersiar dan kini mayat itu telah ramai dikerumi orang. Petugas polisi --yang mendapat laporan--datang cepat dan langsung memeriksa kondisi mayat. Kondisinya sungguh mengerikan. Matanya melotot seakan melihat sesuatu yang menakutkan. Lehernya robek besar, dagingnya menganga, sampai-sampai terlihat tulangnya. Sebuah pisau berkilat ditemukan di dekat tubuh mayat itu. 

Polisi menduga kuat, pria tambun itu mati digigit segerombolan anjing liar yang tengah kelaparan!***


Perempuan Kecil dan Boneka


Foto:Deviantart

Setiap hari anak perempuan kecil itu duduk di kursi kayu di samping rumahnya. Dia memegang boneka kain. Boneka kainnya sudah lusuh, kumal ; serupa baju yang dikenakannya. Sebenarnya dia cantik, kulitnya putih, tapi karena tak terurus dia seperti anak-anak jalanan. 

Ketika kali pertama melihatnya, aku sudah tertarik mengetahui lebih jauh dirinya.Dari para tetangganya, kuketahui anak perempuan itu yatim piatu. Ayahnya lama telah meninggal, ibunya baru setahun kemarin. Sejak itu, ia hanya sendiri di rumah itu. Tak pernah ada kerabat dari pihak ayah atau ibunya yang datang menjemput. Untuk makannya, para tetangganya bergantian membawakan makanan, terkadang ada ibu yang kasihan memandikannya dan mengggantikan pakaiannya, pakaian kotornya mereka bawa pulang untuk dicucikan.

Rumahku beda RT dengan anak itu. Tapi, setiap berangkat-pulang kerja, aku selalu lewat depan rumahnya. Mau tak mau aku setiap hari melihatnya. Makin sering melihatnya, rasa kasihan membersit di hatiku. Kebetulan selama  ini aku hanya sendiri di rumah. Istriku telah lama meninggal. Kami tak dikarunia anak. Kuingin, bila tak ada halangan, mengangkatnya sebagai anak dan tinggal di rumahku.

Hari itu, saat hendak berangkat kerja, kulihat anak itu telah duduk di tempat biasa. Ia tengah asyik bermain dengan bonekanya. Aku sempatkan untuk mampir mendekat ke arahnya.

“ sedang main apa?”

Dia tak melihatku, tapi menjawab. “ Bermain rumah-rumahan dengan Mita.”

“ Mita? Siapa Mita?”

“ Boneka saya.”

“Oo..”

Aku kagum mendengar jawabannya. Dari caranya bicara, tampaknya dia pintar. Bahasanya pun santun.

“ Kamu setiap hari duduk di sini?”

Dia mengangguk.

“ Saya sedang menunggu.”

“ Menunggu?”

“ Iya, menunggu mama. Mama janji akan menjemput saya.”

Ada yang menyesak di dada. Jadi, selama ini dia duduk di tempat ini untuk menunggu dijemput mamanya. Padahal mamanya telah pergi ke surga. Dia tak mungkin datang menjemput anaknya. Anak itu memegang harapan kosong. 

Di kantor, aku terus memikirkan anak itu. Kian kuat keinginanku untuk mengangkatnya sebagai anak. Usiaku kini hampir seperempat abad. Seperti dia, aku pun tinggal sendiri.Aku bertekad mendatangi pengurus lingkungan di tempat anak itu dan menyampaikan niat baikku. Semoga tidak ada aral atas niatku.
Tapi, hari itu aku tak pulang. Bos menyuruhku  berangkat ke Surabaya siang itu juga untuk urusan kantor. Tiket pesawat telah dipesan untukku. Dua hari aku di Surabaya. Hari ketiga aku kembali ke Jakarta, tapi tak langsung ke kantor, karena bosku memberi libur sehari. Kuputuskan pulang saja.

Sebelum sampai rumah, aku lewat depan rumah anak perempuan kecil itu. Tapi, ia tak ada. Seorang anak muda, bertelanjang dada, tengah sibuk membongkar kursi kayu yang biasa diduduki anak perempuan itu. Sengaja aku berhenti.

“ Kok dibongkar?”

Anak muda itu berhenti bekerja, melihat ke arahku.

“ Sudah lama kursi kayu ini mau saya bongkar. Tapi, karena sering dipakai duduk anak perempuan kecil itu, tak pernah jadi. Sekarang, setelah dia tidak ada, baru saya laksanakan membongkarnya.”

Tak ada? Saya terkejut mendengar ucapan anak muda itu. 

“ Memang anak perempuan kecil itu ke mana? Apa dijemput kerabatnya?”

“ Dua hari lalu warga sini temukan dia tertidur di kursi kayu ini. Kami kira dia hanya tidur. Ternyata dia telah meninggal.”

Tubuhku mendadak menggigil. Tiba-tiba aku ingat ucapannya. Dia sering duduk di kursi panjang itu menunggu dijemput mamanya. Rupanya dia kini betul-betul dijemput.***