Kamis, 12 Desember 2013

Lorong Buntu



Seorang pria tambun— berperut buncit hingga napasnya terdengar agak sesak—melintas menyeberang jalan saat lampu merah. Langkahnya diikuti sejumlah pasang mata dari pengendara yang berhenti menunggu lampu merah berubah hijau. Beberapa di antaranya malah bisik-bisik dan menunjuk-nunjuk dirinya. Mungkin mereka tengah mengolok-olok tubuh tambunnya. 

Foto : Dok.Deviantart
Tapi, pria tambun itu tak peduli, dengan cepat ia menyeberang jalan. Kini, ia telah sampai di trotoar jalan depan deretan pertokoan. Saat berjalan kedua tangannya masuk ke saku jaketnya.

Pertokoan itu pada malam hari tutup. Aktivitasnya digantikan sejumlah wanita penghibur yang mondar-mandir di lorong pertokoan mencari pria hidung belang yang mau berkencan. Macam-macam gaya mereka, sebagian berdiri berkumpul, sebagian mondar-mandir meneriaki pengandara yang lewat. Tapi, saat si tambun melewatinya, mereka hanya memandanginya. Tak ada yang mencoba merayunya, malah mereka saling berbisik.Salah seorang bahkan sempat memperoloknya : “Gila, kalau main sama dia mah gue minta di atas aja. Kalau di bawah, bisa gepeng gue,” katanya, diiringi tawa riuh kawan-kawannya.

Pria tambun itu bukan tak mendengarnya. Tapi, ia memilih mengacuhkannya. Bukan sekali ini ia mendengar olok-olok seperti itu. Tapi, mereka biasanya hanya berani di belakang punggungnya. Jadi ia hanya bisa diam saja. Sambil berjalan, agak diturunkannya topi hitamnya hingga lebih menutupi sebagian wajahnya.

Dua blok dari sana, pria tambun itu agak memperlambat langkahnya. Dilihatnya seorang wanita penghibutr tengah berdiri sendirian. Bertubuh tinggi, berambut panjang, dan kulitnya terlihat putih. Rupanya, tipe seperti inilah yang dicarinya.

Semula wanita itu tak menyadari kehadiran orang lain di dekatnya. Ia asyik menikmati rokoknya. Kepulan asap rokoknya melayang-melayang di udara, sebelum akhirnya hilang dibawa angin. Tapi, lama-lama ia sadar juga ada. Ia menoleh dan melihat sosok pria tambun yang tengah memandanginya. Ditebarnya senyuman rayuan.

“ Hallo, om! Butuh kehangatan? Asal harganya cocok, pasti om bisa dapatkan dari saya,” katanya dengan suara dibuat semanja mungkin. 

Sejenak pria tambun itu ragu-ragu. Tapi, kemudian ia mendekat ke arah perempuan itu. Kini tubuh keduanya saling merapat. Saat berdekatan, sang perempuan mendengar suara napas tersenggal-senggal pria tambun itu.

“ Berapa tarifmu?” Si tambun bertanya setelah sejenak berdiam diri. Suaranya terdengar berat. 

“ Om maunya short time atau long time? Kalau short time, gope aja, om. Tapi, kalau mau long time, tinggal kalikan dua aja. Tapi, jangan kawatir, nanti saya kasih korting deh, om,” perempuan itu mulai mengeluarkan jurus rayuan kepada lelaki tambun itu.

“ Baik,” suara pria tambun itu terdengar lagi. “Saya akan bayar kamu dobel. Tapi, kita cari tempat dulu karena saya ingin bicara serius denganmu.”

“ Kalau menyangkut uang, ke manapun om ngajak, saya pasti nurut,” kata perempuan itu dengan wajah cerah.

Berdua mereka berjalan menyusuri lorong trotoar itu. Tak ada yang memperhatikan keduanya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sudah biasa di tempat itu orang-orang datang dan pergi. 

Tak lama kemudian keduanya terlihat berbelok ke sebuah lorong. Ternyata itu lorong buntu. Lorong itu cukup terang, tapi di kiri kanannya dipenuhi gunungan sampah. Gunungan sampah itulah yang bisa menghalangi penglihatan orang lain ke dalam lorong buntu itu. Bau sampah terasa menyengat di hidung. Air menggenangi lantai lorong itu. Beberapa ekor tikus berlarian menghindar begitu menyadari kehadiran mereka.

Keadaan itu yang membuat perempuan itu sedikit gusar.

“ Om nggak ngajak saya main di tempat seperti ini, kan? Sebaiknya kita cari kamar hotel aja. Yang murah juga nggak apa-apa, om,” suaranya agak merajuk.

“ Kita berdua ke mari memang bukan untuk itu,” jawab pria tambun itu.

Usai berkata begitu--dengan tangan terbungkus sarung hitam—dibekapnya  mulut perempuan penghibur itu, lalu didorongnya hingga merapat ke tembok. Dia lalu mencabut pisau dari balik jaket kulitnya, ditempelkannya ke leher putih perempuan itu. Pisau itu berkilat ditimpa cahaya lampu.

“Sedikit saja kau bergerak,”ancamnya, “ pisau ini akan merobek-robek lehermu.”

Perempuan penghibur terlihat mengikuti perintahnya. Dia hanya berdiam tak bergerak, menunggu apa yang selanjutnya dilakukan pria tambun itu. Hanya matanya yang terus melihat gerak-gerik pria tambun itu. Pria tambun itu sedikit lega, karena sama sekali tak ada perlawanan dari calon mangsanya.

Dalam kondisi begitu, mendadak berkelebat wajah istrinya. Perempuan yang selama ini mengolok-olok tubuh tambunnya, yang menghina ketidakmampuannya menghasilkan keturunan, dan yang sering memasukkan pria lain ke dalam kamar mereka saat ia tidak ada di rumah. Rasa marah dan dendam di hatinya muncul. Dan perempuan penghibur itu akan jadi pelampiasan dendamnya. Dia bukanlah korban pertama. Sudah Sembilan perempuan penghibur dibunuhnya dengan cara dirobek-robek lehernya. Setiap kali membunuh, ia bayangkan leher istrinyalah yang dirobeknya. 

Selama ini, ia terpuaskan bila melihat wajah ketakutan para korbannya. Tubuh mereka yang gemetar, mata memelas dan ucapan-ucapan memohon agar tidak dibunuh. Tapi, pada korbannya kali ini, pria tambun itu melihat hal aneh. Tak ada rasa takut di matanya. Tubuhnya pun tak gemetar.

Di saat bersamaan, bulan bulat muncul penuh dari balik awan. Bulan purnama! Cahayanya masuk ke lorong dan menerangi tubuh keduanya. Keanehan terjadi. Tubuh perempuan itu perlahan-lahan berubah bentuk. Keluar bulu-bulu lebat di tangannya. Begitu pula di wajahnya. Kedua alisnya menebal, rambutnya yang sebelumnya lurus panjang, tiba-tiba saja menjadi acak-acakan, mengingatkan akan wajah seekor srigala. 

Keadaannya kini berbalik. Perasaan takut menghantui pria tambun itu. Dia ingin cepat-cepat lari dari tempat itu. Tapi, saat bekapannya ia lepaskan, matanya terbelalak melihat keanehan lain lagi. Mulut perempuan itu menyerangai, terlihat deretan gigi besar-besar dengan empat taring yang juga besar. Dan belum sempat pria tambun bergerak, tubuhnya telah diterkam, lehernya dicabik-cabik. Darah muncrat ke mana-mana.

Sejam kemudian, dari lorong buntu itu muncul sesosok tubuh perempuan. Bertubuh tinggi dan berkulit putih. Sejenak ia berhenti, merapihkan rambut yang sempat terlihat acak-acakan. Setelah itu, dari tasnya, ia keluarkan bungkusan rokok dan dinyalakannya sebatang. Dengan santai ia kemudian berjalan menuju ke tempat ia biasa berdiri sendiri menunggu mangsanya. Di lorong depan deretan pertokoan.

Keesokan paginya orang-orang yang lewat di sekitar tempat itu dibuat gempar dengan penemuan mayat pria bertubuh tambun di lorong buntu dekat tumpukan sampah. Awalnya seorang pemulung yang menemukan mayat itu. Kabar cepat tersiar dan kini mayat itu telah ramai dikerumi orang. Petugas polisi --yang mendapat laporan--datang cepat dan langsung memeriksa kondisi mayat. Kondisinya sungguh mengerikan. Matanya melotot seakan melihat sesuatu yang menakutkan. Lehernya robek besar, dagingnya menganga, sampai-sampai terlihat tulangnya. Sebuah pisau berkilat ditemukan di dekat tubuh mayat itu. 

Polisi menduga kuat, pria tambun itu mati digigit segerombolan anjing liar yang tengah kelaparan!***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar