Seorang pria tambun— berperut
buncit hingga napasnya terdengar agak sesak—melintas menyeberang jalan saat
lampu merah. Langkahnya diikuti sejumlah pasang mata dari pengendara yang
berhenti menunggu lampu merah berubah hijau. Beberapa di antaranya malah
bisik-bisik dan menunjuk-nunjuk dirinya. Mungkin mereka tengah mengolok-olok
tubuh tambunnya.
| Foto : Dok.Deviantart |
Tapi, pria tambun itu tak peduli,
dengan cepat ia menyeberang jalan. Kini, ia telah sampai di trotoar jalan depan
deretan pertokoan. Saat berjalan kedua tangannya masuk ke saku jaketnya.
Pertokoan itu pada malam hari
tutup. Aktivitasnya digantikan sejumlah wanita penghibur yang mondar-mandir di
lorong pertokoan mencari pria hidung belang yang mau berkencan. Macam-macam
gaya mereka, sebagian berdiri berkumpul, sebagian mondar-mandir meneriaki
pengandara yang lewat. Tapi, saat si tambun melewatinya, mereka hanya
memandanginya. Tak ada yang mencoba merayunya, malah mereka saling berbisik.Salah
seorang bahkan sempat memperoloknya : “Gila, kalau main sama dia mah gue minta
di atas aja. Kalau di bawah, bisa gepeng gue,” katanya, diiringi tawa riuh
kawan-kawannya.
Pria tambun itu bukan tak
mendengarnya. Tapi, ia memilih mengacuhkannya. Bukan sekali ini ia mendengar
olok-olok seperti itu. Tapi, mereka biasanya hanya berani di belakang
punggungnya. Jadi ia hanya bisa diam saja. Sambil berjalan, agak diturunkannya
topi hitamnya hingga lebih menutupi sebagian wajahnya.
Dua blok dari sana, pria tambun itu
agak memperlambat langkahnya. Dilihatnya seorang wanita penghibutr tengah
berdiri sendirian. Bertubuh tinggi, berambut panjang, dan kulitnya terlihat putih.
Rupanya, tipe seperti inilah yang dicarinya.
Semula wanita itu tak menyadari
kehadiran orang lain di dekatnya. Ia asyik menikmati rokoknya. Kepulan asap rokoknya
melayang-melayang di udara, sebelum akhirnya hilang dibawa angin. Tapi, lama-lama
ia sadar juga ada. Ia menoleh dan melihat sosok pria tambun yang tengah
memandanginya. Ditebarnya senyuman rayuan.
“ Hallo, om! Butuh kehangatan?
Asal harganya cocok, pasti om bisa dapatkan dari saya,” katanya dengan suara
dibuat semanja mungkin.
Sejenak pria tambun itu ragu-ragu.
Tapi, kemudian ia mendekat ke arah perempuan itu. Kini tubuh keduanya saling
merapat. Saat berdekatan, sang perempuan mendengar suara napas
tersenggal-senggal pria tambun itu.
“ Berapa tarifmu?” Si tambun
bertanya setelah sejenak berdiam diri. Suaranya terdengar berat.
“ Om maunya short time atau long
time? Kalau short time, gope aja, om. Tapi, kalau mau long time, tinggal
kalikan dua aja. Tapi, jangan kawatir, nanti saya kasih korting deh, om,”
perempuan itu mulai mengeluarkan jurus rayuan kepada lelaki tambun itu.
“ Baik,” suara pria tambun itu
terdengar lagi. “Saya akan bayar kamu dobel. Tapi, kita cari tempat dulu karena
saya ingin bicara serius denganmu.”
“ Kalau menyangkut uang, ke
manapun om ngajak, saya pasti nurut,” kata perempuan itu dengan wajah cerah.
Berdua mereka berjalan menyusuri
lorong trotoar itu. Tak ada yang memperhatikan keduanya. Semua sibuk dengan
urusan masing-masing. Sudah biasa di tempat itu orang-orang datang dan pergi.
Tak lama kemudian keduanya
terlihat berbelok ke sebuah lorong. Ternyata itu lorong buntu. Lorong itu cukup
terang, tapi di kiri kanannya dipenuhi gunungan sampah. Gunungan sampah itulah
yang bisa menghalangi penglihatan orang lain ke dalam lorong buntu itu. Bau sampah
terasa menyengat di hidung. Air menggenangi lantai lorong itu. Beberapa ekor
tikus berlarian menghindar begitu menyadari kehadiran mereka.
Keadaan itu yang membuat
perempuan itu sedikit gusar.
“ Om nggak ngajak saya main di
tempat seperti ini, kan? Sebaiknya kita cari kamar hotel aja. Yang murah juga
nggak apa-apa, om,” suaranya agak merajuk.
“ Kita berdua ke mari memang
bukan untuk itu,” jawab pria tambun itu.
Usai berkata begitu--dengan
tangan terbungkus sarung hitam—dibekapnya mulut perempuan penghibur itu, lalu didorongnya
hingga merapat ke tembok. Dia lalu mencabut pisau dari balik jaket kulitnya,
ditempelkannya ke leher putih perempuan itu. Pisau itu berkilat ditimpa cahaya
lampu.
“Sedikit saja kau
bergerak,”ancamnya, “ pisau ini akan merobek-robek lehermu.”
Perempuan penghibur terlihat
mengikuti perintahnya. Dia hanya berdiam tak bergerak, menunggu apa yang
selanjutnya dilakukan pria tambun itu. Hanya matanya yang terus melihat gerak-gerik
pria tambun itu. Pria tambun itu sedikit lega, karena sama sekali tak ada
perlawanan dari calon mangsanya.
Dalam kondisi begitu, mendadak berkelebat
wajah istrinya. Perempuan yang selama ini mengolok-olok tubuh tambunnya, yang
menghina ketidakmampuannya menghasilkan keturunan, dan yang sering memasukkan
pria lain ke dalam kamar mereka saat ia tidak ada di rumah. Rasa marah dan
dendam di hatinya muncul. Dan perempuan penghibur itu akan jadi pelampiasan
dendamnya. Dia bukanlah korban pertama. Sudah Sembilan perempuan penghibur
dibunuhnya dengan cara dirobek-robek lehernya. Setiap kali membunuh, ia
bayangkan leher istrinyalah yang dirobeknya.
Selama ini, ia terpuaskan bila
melihat wajah ketakutan para korbannya. Tubuh mereka yang gemetar, mata memelas
dan ucapan-ucapan memohon agar tidak dibunuh. Tapi, pada korbannya kali ini,
pria tambun itu melihat hal aneh. Tak ada rasa takut di matanya. Tubuhnya pun
tak gemetar.
Di saat bersamaan, bulan bulat
muncul penuh dari balik awan. Bulan purnama! Cahayanya masuk ke lorong dan
menerangi tubuh keduanya. Keanehan terjadi. Tubuh perempuan itu perlahan-lahan
berubah bentuk. Keluar bulu-bulu lebat di tangannya. Begitu pula di wajahnya.
Kedua alisnya menebal, rambutnya yang sebelumnya lurus panjang, tiba-tiba saja
menjadi acak-acakan, mengingatkan akan wajah seekor srigala.
Keadaannya kini berbalik.
Perasaan takut menghantui pria tambun itu. Dia ingin cepat-cepat lari dari
tempat itu. Tapi, saat bekapannya ia lepaskan, matanya terbelalak melihat
keanehan lain lagi. Mulut perempuan itu menyerangai, terlihat deretan gigi
besar-besar dengan empat taring yang juga besar. Dan belum sempat pria tambun
bergerak, tubuhnya telah diterkam, lehernya dicabik-cabik. Darah muncrat ke
mana-mana.
Sejam kemudian, dari lorong buntu
itu muncul sesosok tubuh perempuan. Bertubuh tinggi dan berkulit putih. Sejenak
ia berhenti, merapihkan rambut yang sempat terlihat acak-acakan. Setelah itu,
dari tasnya, ia keluarkan bungkusan rokok dan dinyalakannya sebatang. Dengan
santai ia kemudian berjalan menuju ke tempat ia biasa berdiri sendiri menunggu
mangsanya. Di lorong depan deretan pertokoan.
Keesokan
paginya orang-orang yang lewat di sekitar tempat itu dibuat gempar dengan
penemuan mayat pria bertubuh tambun di lorong buntu dekat tumpukan sampah.
Awalnya seorang pemulung yang menemukan mayat itu. Kabar cepat tersiar dan kini
mayat itu telah ramai dikerumi orang. Petugas polisi --yang mendapat
laporan--datang cepat dan langsung memeriksa kondisi mayat. Kondisinya sungguh
mengerikan. Matanya melotot seakan melihat sesuatu yang menakutkan. Lehernya
robek besar, dagingnya menganga, sampai-sampai terlihat tulangnya. Sebuah pisau
berkilat ditemukan di dekat tubuh mayat itu.
Polisi
menduga kuat, pria tambun itu mati digigit segerombolan anjing liar yang tengah
kelaparan!***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar