Kamis, 12 Desember 2013

Hamil


(Cerita Mini)
Siang itu, di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat, aku melihat seorang ibu tengah kerepotan di pintu belakang metromini. Perutnya yang hamil besar membuatnya susah naik, belum lagi tas besar bawaannya yang disandangkan ke bahunya. Buru-buru aku berlari dan  membantunya naik. Saat di atas kendaraan, ibu itu menoleh ke arahku dan tersenyum.
Foto : Dok Deviantart

“Terima kasih ya.”  

“ Iya, bu.”

Metromini itu penuh penumpang, berjubel sampai ke pintu. Kucoba membantunya masuk lebih ke dalam. Aku kawatir, bila di dekat pintu, ibu itu akan terjatuh saat kendaraan umum itu mengerem mendadak. Seorang pelajar SMU bangkit dari kursinya, mempersilahkan ibu itu duduk. Aku terharu melihat  kepedulian sosial pelajar itu.Di zaman sekarang ini, kebanyakan orang—terlebih lagi di kota Jakarta— lebih mementingkan diri sendiri. 

Aku sengaja memilih berdiri di dekat ibu hamil itu, sambil berpegangan ke besi di atas kepalaku, menjaga agar ia tak terdesak penumpang lain. 

“ Ibu mau ke mana?” aku bertanya.


“ Saya mau ke Rumah Sakit Bersalin di daerah Kampung Melayu,” jawabnya. “ Mau memeriksakan kandungan. Rasanya, sudah waktunya.”

“ Kenapa tidak diantar?”

“ Tadi pagi sih tidak terasa apa-apa,” ia berkata. “Tapi, setelah suami saya berangkat ke kantor, mendadak perut terasa mules.Jadinya, saya pilih berangkat sendiri saja.”

“ Tidak ada keluarga lain yang mengantar?”

“ Tidak ada keluarga lainnya, saya di Jakarta hanya berdua dengan suami. Kami berdua sama-sama dari kampung. Pindah ke Jakarta karena suami dapat pekerjaan,” tuturnya. Saya merasa ikut prihatin mendengar ceritanya.

Dari arah depan, kondektur Metromini masih menagih ongkos kepenumpang. Ia kini bergerak ke arah kami.

Aku mencoba melihat dari kaca jendela. Agaknya, sudah sampai di daerah Jatinegara. Aku lalu berteriak meminta supir untuk berhenti. Sebelum turun, aku pamit ke ibu hamil itu, sambil berpesan, agar berhati-hati dan menjaga barang-barang bawaannya karena di kendaraan umum banyak copet. Ibu itu sekali lagi mengucapkan terima kasih. Begitu aku melompat turun, Metromini itu bergerak jalan kembali.

Aku berjalan di trotoar ke arah Stasiun Jatinegara.Sambil berjalan, kucoba bayangkan kegaduhan yang terjadi di dalam Metromini saat ibu hamil itu ditagih ongkos oleh sang kondektur. Ia akan sibuk mencari-cari dompetnya, lalu berteriak-teriak separuh histeris karena dompetnya hilang. 

Dan aku merasa lega—setidaknya aku bisa makan kenyang hari ini— karena dompet ibu hamil itu kini terselip aman di balik jaketku.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar