(Cerita Mini)
Siang itu, di Jalan Pramuka, Jakarta
Pusat, aku melihat seorang ibu tengah kerepotan di pintu belakang metromini.
Perutnya yang hamil besar membuatnya susah naik, belum lagi tas besar bawaannya
yang disandangkan ke bahunya. Buru-buru aku berlari dan membantunya naik.
Saat di atas kendaraan, ibu itu menoleh ke arahku dan tersenyum.
![]() |
| Foto : Dok Deviantart |
“Terima kasih ya.”
“ Iya, bu.”
Metromini itu penuh penumpang,
berjubel sampai ke pintu. Kucoba membantunya masuk lebih ke dalam. Aku kawatir,
bila di dekat pintu, ibu itu akan terjatuh saat kendaraan umum itu mengerem
mendadak. Seorang pelajar SMU bangkit dari kursinya, mempersilahkan ibu itu
duduk. Aku terharu melihat kepedulian sosial pelajar itu.Di zaman
sekarang ini, kebanyakan orang—terlebih lagi di kota Jakarta— lebih
mementingkan diri sendiri.
Aku sengaja memilih berdiri di dekat
ibu hamil itu, sambil berpegangan ke besi di atas kepalaku, menjaga agar ia tak
terdesak penumpang lain.
“ Ibu mau ke mana?” aku bertanya.
“ Saya mau ke Rumah Sakit Bersalin
di daerah Kampung Melayu,” jawabnya. “ Mau memeriksakan kandungan. Rasanya,
sudah waktunya.”
“ Kenapa tidak diantar?”
“ Tadi pagi sih tidak terasa
apa-apa,” ia berkata. “Tapi, setelah suami saya berangkat ke kantor, mendadak
perut terasa mules.Jadinya, saya pilih berangkat sendiri saja.”
“ Tidak ada keluarga lain yang
mengantar?”
“ Tidak ada keluarga lainnya, saya
di Jakarta hanya berdua dengan suami. Kami berdua sama-sama dari kampung.
Pindah ke Jakarta karena suami dapat pekerjaan,” tuturnya. Saya merasa ikut
prihatin mendengar ceritanya.
Dari arah depan, kondektur Metromini
masih menagih ongkos kepenumpang. Ia kini bergerak ke arah kami.
Aku mencoba
melihat dari kaca jendela. Agaknya, sudah sampai di daerah Jatinegara. Aku lalu
berteriak meminta supir untuk berhenti. Sebelum turun, aku pamit ke ibu hamil
itu, sambil berpesan, agar berhati-hati dan menjaga barang-barang bawaannya
karena di kendaraan umum banyak copet. Ibu itu sekali lagi mengucapkan terima
kasih. Begitu aku melompat turun, Metromini itu bergerak jalan kembali.
Aku berjalan di trotoar ke arah
Stasiun Jatinegara.Sambil berjalan, kucoba bayangkan kegaduhan yang terjadi di
dalam Metromini saat ibu hamil itu ditagih ongkos oleh sang kondektur. Ia akan
sibuk mencari-cari dompetnya, lalu berteriak-teriak separuh histeris karena
dompetnya hilang.
Dan aku merasa lega—setidaknya aku
bisa makan kenyang hari ini— karena dompet ibu hamil itu kini terselip aman di
balik jaketku.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar