Sore itu, aku baru keluar dari super
market sehabis belanja bulanan ketika kulihat peristiwa yang membuatku kaget.
![]() |
| Foto : Deviantart |
Seorang nenek tengah ditimpuki batu oleh sekelompok anak tanggung. Nenek itu
terduduk di tanah, menutup mukanya dengan tangan. Batu besar-kecil terus
melayang ke arahnya. Melihat itu, aku buru-buru berlari mendekat sambil
berteriak-teriak ke anak–anak itu agar menghentikan aksi mereka. Mereka
berhenti ketika aku sampai.
Seorang anak berteriak ke arahku.
“Jangan ditolong,tante. Dia itu
nenek jahat!”
“ Kalian yang jahat!”balasku. “
Sampai hati kalian melempar nenek ini dengan batu! Apa kalian tidak diajari
sopan santun !”
Anak-anak itu terdiam mendengar
bentakanku. Secara bersamaan mereka menjauh. Kulihat di beberapa bagian tubuh
nenek itu terdapat luka memar. Kepalanya berdarah. Kubantu dia berdiri.
“Terima kasih, Non,”katanya
kepadaku.
Aku mengangguk.
“ Nenek mau ke mana?”
“ Nenek tidak tahu mauke mana.”
“ Nenek punya keluarga di Jakarta
ini?”
Dia menggeleng.
“ Nenek dari kampung.Ke Jakarta ini
mau nyari cucu nenek. Tapi, nenek bingung, tidak tahu ke mana mencarinya.”
“ Kalau begitu, nenek ikut ke rumah
saya ya, akan saya bersihkan luka-luka nenek,” kataku. Dia mengangguk.
Tiba di kontrakanku,segera
kubersihkan luka di tubuh nenek itu. Kepalanya kuberi obat luka, lalu kuberi
perban. Memar di tangannya kubaluri minyak tawon. Dari tatapan matanya,kutahu
ia ngin menyampaikan rasa terima kasih. Setelah beres membantu nenek itu, baru
kukeluarkan belanjaanku untuk ditaruh di kulkas. Nenek itu memperhatikanku.
“ Mau masak ya,Non?”
“ Iya, nek,” jawabku. “Tapi, saya
mau mandi dulu.”
“Kalau begitu non mandi saja. Biar
nenek yang masak.” Katanya.
“Nenek bisa masak?”
“Bisa. Biar nenek masakkan sup ayam.
Non boleh cobain masakan nenek.”
Meski ragu, aku serahkan potongan
ayam,berikut bahan-bahan sup kepadanya. Belanjaan lainnya kumasukkan ke dalam
kulkas.
“Maaf,Non, di mana pisaunya?”
“Di laci, Nek. Buka saja.”
Nenekmembuka laci lemari makan, lalu
mengeluarkan pisau. Kulihat ia sejenak terdiam memperhatikan pisauku. Aku yakin
ia kagum dengan pisau dapurku. Pisau itu amat tajam,berujung runcing, terbuat
dari bahan anti karat.
Sementara nenek masak sup,
kuputuskan untuk mandi. Cukup lama aku di kamar mandi. Begitu selesai, kulihat
nenek telah menyiapkan perlengkapan makan di meja. Aroma sup ayam membuatku
lapar.Melihatku telah selesai mandi, nenek tersenyum. Kubalas senyumnya. Aku
buru-buru masuk kamar, berganti baju, lalu keluar lagi. Berdua kami lalu makan.
Sungguh luar biasa sup ayam masakan nenek.Dalam hati aku bersyukur telah
menolongnya dan membawanya ke kontrakanku.Dalam hati, aku malah berharap nenek
itu mau tinggal bersamaku.
Aku memang tinggal sendiri di
Jakarta. Keluargaku tinggal di Solo. Sebulan sekali ibuku datang ke kontrakanku
dan menginap selama dua hari.Setelah itu ia balik ke Solo. Ayahku telah lama
meninggal. Meski tinggal sendiri, ibuku tak mau kuajak tinggal di Jakarta
bersamaku. Ia merasa lebih cocok tinggal di Solo. Di Jakarta, aku bekerja
sebagai sekretaris di sebuah perusahaan kontraktor. Aku anak tunggal.
Selesai makan, kuajak nenek itu ke
kamar. Kuajak dia tidur seranjang denganku. Tapi, ia menolak, lebih memilih
tidur di lantai. Tak tega, kuturunkan kasur lipat dari atas lemari pakaian,
lalu menggelarnya untuk alas tidur nenek. Kuberi pula ia bantal.
Tak berapa lama, nenek itu telah
tertidur. Agaknya, ia dalam keadaan letih.Posisi tidurnya meringkuk seolah
menahan rasa dingin. Kuambil selimutku, lalu menyelimuti tubuhnya. Tak lama,
aku pun terlelap tidur.
Entah berapa lama aku tertidur,
ketika mendadak aku terbangun dengan rasa nyeri di dada. Dengan mata masih
mengantuk, kulihat sang nenek telah berdiri di samping ranjangku. Matanya
mendelik dan mulutnya menyeringai. Tangannya memegang pisau yang berlumur
darah. Itu pisau milikku. Rasa takut langsung menghinggapiku. Tapi, belum lagi
aku berbuat sesuatu, ia telah menghujamkan pisau ke dadaku.
Tepat menembus
jantungku!


